Pergantian tahun memang selalu menarik. Walaupun secara fakta, ini berarti kita semakin dekat ke titik akhir yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa untuk kita.
Tapi, ya gitu. Tahun baru juga berarti akan selalu ada pengharapan baru, cita-cita, dan target baru yang bisa kita manfaatkan untuk memperbaiki diri menurut versi kita masing-masing. Bukannya cuman pasrah, menjalani hidup ala kadarnya. Toh kita juga tetap butuh ‘bekal’, bukan?
Ada yang mulai dengan menuliskan mimpi-mimpi dan harapannya, ada juga yang merasa cukup menuliskan mimpi-mimpinya di dalam benak. Dan jujur, aku tergolong tipe pertama. Yap, aku terbiasa menuliskan segala target, mimpi dan harapan setiap tahun, atau bahkan bulan.
It just boosts my energy, somehow.
Tapi, di antara semua itu.. Ada fenomena yang menurutku sama sekali nggak biasa.
Ternyata, ada segelintir orang di luar sana yang berpikir bahwa memiliki target, resolusi, atau apapun itu adalah hal bodoh. Iya, hal bodoh. Nggak paham bisa dinilai ‘bodoh’ darimananya (I need to read more references, I guess).
Mereka menganggap, “ngapain repot-repot nulis mimpi dan target kalo target-target itu nggak semuanya tercapai atau bahkan nggak tercapai sama sekali?”
Di titik itu, rasanya benar-benar menohok.
Well, menurutku..
Iya, emang. Dengan menulis mimpi-mimpi dan target kita, itu nggak membuat target-target kita auto-tercapai semuanya. Butuh proses, butuh usaha, butuh kerja keras, dan yang terpenting.. butuh doa juga. Hanya saja, minimal dengan menuliskan, itu adalah bentuk komitmen kita terhadap mimpi-mimpi kita sendiri.
Di titik terendah dalam hari-hari terburuk yang kita jalani nanti, menengok catatan-catatan kecil tentang mimpi kita, akan menumbuhkan kembali komitmen kita yang barangkali mulai pudar.
Masalah tercapai semua atau nggak, itu masalah nanti. Yang penting usaha aja dulu, lakukan yang terbaik aja dulu. Kalo emang bisa tercapai sekarang ya alhamdulillah, tapi kalo belum tercapai ya.. berarti Allah punya rencana yang lebih baik buat kita.
Sebab, kata eyang Denzel Washington…
Tanpa komitmen, kita nggak bakal pernah mulai. Dan tanpa konsistensi, kita nggak bakal pernah selesai.
