
Tadi malam, aku dan suami memutuskan untuk menonton sebuah film dokumenter berjudul Negeri di Bawah Kabut yang dibuat pada tahun 2011. Film yang berdurasi hampir 2 jam ini mengisahkan kehidupan 2 keluarga yang tinggal di lereng Gunung Merbabu. Mereka dihadapkan pada berbagai masalah klise nan pelik yang menarik untuk diurai dari berbagai sisi. Mulai dari masalah pertanian, lingkungan, ekonomi, sosial, hingga pendidikan. Semua persoalan itu seolah menjadi mata rantai yang tak berkesudahan.
Petani, Pranata Mangsa dan Perubahan Iklim
Bermatapencaharian sebagai petani, secara tidak langsung membuat para warga bergantung penuh pada alam. Biasanya, para petani di Desa Genikan berpedoman pada pranata mangsa dalam menentukan masa tanam. Sistem penanggalan ini sudah dianut secara turun-temurun oleh warga sekitar. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, cuaca yang berubah-ubah, serta hujan yang turun tiada henti di musim kemarau tampaknya menjadikan pranata mangsa tidak lagi relevan untuk pertanian mereka di masa sekarang. Akibatnya, para petani gagal panen dan terancam merugi. Pemanasan global terus terjadi, perubahan iklim pun tidak dapat dipungkiri.
Kondisi Ekonomi dan Akses terhadap Pendidikan
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, seperti itulah yang dirasakan para petani di Desa Genikan. Gagal panen yang terus menerus, tentu berdampak pada kondisi finansial mereka. Jumlah pengeluaran yang bisa jadi bertambah, sementara penghasilan mereka sudah pasti berkurang.
Di film ini, tema kemiskinan dan akses terhadap pendidikan yang rendah digambarkan oleh kehidupan seorang anak petani yang bernama Arifin. Ia baru saja lulus SD dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Cita-citanya sederhana, yaitu melanjutkan sekolah ke SMP Negeri. Orang tua mereka pun mendukungnya. Sekuat tenaga mereka berusaha mencari tambahan uang untuk biaya sekolah Arifin yang bagi mereka tidaklah murah. Namun, apa daya, cita-cita Arifin pun terpaksa pupus.
Petani Kentang kok Nggak Makan Kentang?
Menurutku, poin ini tidak hanya menggelitik, tetapi juga menggambarkan suatu ironi. Para petani di Desa Genikan mayoritas menanam sayuran sebagai komoditas utama, salah satunya adalah kentang. Mungkin banyak dari kita yang tahu bahwa kentang mengandung karbohidrat yang tinggi dan bisa dijadikan sebagai pengganti nasi. Akan tetapi, dalam film ini, ada sebuah scene yang sebenarnya menggambarkan bagaimana persepsi kebanyakan orang Indonesia terhadap ‘nasi’.
Pasangan petani kentang yaitu Muryati dan Sudardi digambarkan tengah menghitung hasil pendapatan mereka dan menambahkan ‘beras’ dalam salah satu daftar belanja. Lho, sebentar. Mereka kan petani kentang, kenapa harus membeli beras? Bukankah seharusnya mereka bisa makan kentang? Kan kandungan karbohidratnya kurang lebih sama? Hmm menarik.
—
Jadi, itulah kira-kira gambaran singkat beberapa isu yang diangkat melalui film dokumenter ini. Seru sekali. Selama menonton, perasaan kami rasanya seperti diaduk-aduk. Sedih, miris, tidak berdaya, terharu, dan juga bahagia melihat betapa bersyukurnya mereka atas segala hal yang dimiliki. Kendati demikian, sudah 9 tahun berlalu sejak film ini dibuat. Semoga sudah banyak perubahan yang lebih baik disana.
Oh ya, bagi teman-teman yang ingin menonton filmnya, silakan klik link berikut.
