Perspective

Percakapan Menuju Tengah Malam

Ini merupakan kesekian kalinya saya menghabiskan malam dengan teman-teman kampus di sebuah warung makan. Berawal dari hasrat memadamkan kelaparan, kemudian aktivitas kami pun merambat ke suatu perbincangan tanpa alur. Percakapan kami mengalir begitu saja, menyentuh berbagai ranah yang bahkan tidak berkaitan dengan topik bahasan sebelumnya.

Kami bercerita banyak hal. Mulai dari mimpi, cita-cita, keluarga, ideologi bahkan cinta.

Sejujurnya, topik tentang ‘cinta’ merupakan hal paling sensitif bagi kami. Maklum, memasuki usia 20 tahun, semuanya terasa kian nyata, tapi rumit juga sih.

Konsep jatuh cinta tidak lagi sesederhana tentang dua orang yang saling mencintai. Tidak lagi seperti konsep yang kita tahu saat masih SD ataupun SMP. Banyak sekali ‘syarat’ yang secara tidak langsung harus kami penuhi agar hubungan tersebut punya harapan untuk berlanjut ke jenjang selanjutnya. Kalau kata orang-orang sih, “bibit, bebet, bobot“-nya juga harus diperhatikan. Mulai dari agama, suku, latar belakang keluarga, ekonomi, status sosial, pendidikan dan juga lainnya.

Deretan ‘persyaratan’ tadi masih belum termasuk dengan kriteria ideal dari diri kita masing-masing loh ya. Dan biasanya, semakin tinggi ‘jam terbang’ kita, maka semakin tinggi pula standar ideal yang kita tetapkan bagi calon pasangan.

Kami pun mulai menanyai satu sama lain tentang kriteria masing-masing. Ada yang mensyaratkan calonnya harus sedap dipandang, pintar, romantis seperti oppa-oppa yang ada di Kdrama, bagus agamanya, asik diajak diskusi dan lain-lain-lain. Semua berhak menetapkan standar mereka setinggi dan sesempurna mungkin, tapi kami lupa akan satu hal.

Bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Hingga akhirnya kami pun sepakat bahwa kami tidak perlu seseorang yang sempurna. Cukuplah seseorang yang akan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, yang kemauan belajarnya tidak akan surut seiring berjalannya waktu, yang semangatnya (sekalipun pernah padam) tetapi baranya akan tetap terjaga.

2 thoughts on “Percakapan Menuju Tengah Malam

  1. Bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Tapi cari orang yang dengan bersamanya kita merasa sempurna. πŸ™†πŸ™†πŸ™†πŸ™†πŸ™†πŸ™†πŸ™†πŸ™†πŸ™†πŸ™†

    jehehehe

    Like

Leave a reply to gadispratiwi Cancel reply